Senin, 06 Juli 2020

Review: Pixy White-Aqua Pore Cleanse Micellar Foam


Hai haaaiii bloggies, apa kabar? :)
Hari ini mau ngebahas facial wash dengan kemasan paling cantik yang pernah gue lihat,  Pixy White-Aqua Pore Cleanse Micellar Foam, makanya gue langsung beli tanpa gugling dulu apa aja ingredients-nya, nggak kepoin review orang-orang, simply karena gue ingin memilikinya, nggak peduli apa pun kata orang 😂😂😂

Sekarang, ini review-nya.
Kemasan  Pixy White-Aqua Pore Cleanse Micellar Foam dari plastik warna putih, di ujungnya ada sikat tempat keluarnya foam. Ada penutup transparan di sikatnya. Pakai kaitan lho penutupnya ini, harus dipencet kedua sisinya baru bisa dibuka. Untuk nguncinya juga kenceng, jadi bukan yang asal nyantol. Pokoknya keamanan dan kehigienisan terjamin insyaallah 😊
Pixy White-Aqua Pore Cleanse Micellar Foam (duh panjang ya namanya) ini disegel kertas silver di bagian tutup. Jadi kalau kamu beli online, pastikan segelnya masih terpasang, ya.
Sikatnya dari silikon, bisa dilepas kalau mau dicuci. Saran gue sih kalau emang mau dicuci, keringkan dulu sampai benar-benar kering sebelum dipasang lagi. Tau sendiri kan yang lembap gitu bisa jadi sarang jamur. 
Aduh pokoknya kalau dari bentuknya mah udah sempurna 😍😍





Dari bentuk, kita masuk ke isi. Sebelum digunakan,  Pixy White-Aqua Pore Cleanse Micellar Foam ini dikocok dulu, lalu dipencet dua kali. Foamnya akan keluar dari sikatnya. Cukup segitu aja volume yang digunakan untuk seluruh wajah. Sikat lembut wajah dengan gerakan memutar. Setelah dirasa cukup, bilas dengan air.
Foamnya lembut, enak di muka. Wanginya juga calming gitu deh. Sikatnya juga lembut. 


Nah, yang menyenangkan dari nyobain facial wash adalah nggak perlu pakai selama mingguan/ bulanan untuk bikin review. Gue cukup dua kali pakai untuk bisa bikin kesimpulan 😀
Setelah pemakaian pertama, filtrum dan tepi hidung kiri-kanan gue iritasi. Dasar kulit gue ketipisan kali.
Jadi besokannya, foamnya gue taruh di tangan, terus cuci muka kayak biasa. Nggak pakai sikatnya. Masih terasa panas. Kesimpulan sementara, gue nggak cocok sama bahannya. Apalagi selesai cuci muka tuh wajah rasanya keset. Mungkin ada orang-orang yang suka wajahnya keset setelah cuci muka, facial foam ini bisa dicoba. Tapi gue sukanya face wash yang udahannya bikin muka terasa lembap.
Berarti masalah gue ada di ingredients-nya. Emang sih, di cover udah ditulis mengandung AHA+BHA complex, tapi gue pikir ini kan buat cuci muka doang, abisannya dibilas air. Sebanyak apa sih kandungan AHA+BHA-nya, ya kan? (FYI gue nggak cocok pakai AHA+BHA, dulu punya pengalaman buruk tentang itu dan nggak mau nyoba lagi walaupun dibayar sejuta. Kalau semiliar mungkin masih mikir 😀)

Jadi, pergilah gue ke bagian ingredients.
 Pixy White-Aqua Pore Cleanse Micellar Foam mengandung:
water, glycerin, cocamidopropylbetaine, laurylbetaine, pachyrhizus erosus root extract, sodium chloride, disodium cocoylglutamae, phenoxyethanol, propyleneglycol, fragrance, aloe barbadensis leaf juice, coconut acid, ethylhexylglycerin, lactid acid, disodium edta, salicylic acid, potassium sorbate, sodium benzoate, citric acid


Abis baca ingredients, gue ketawa-ketawa miris. Pantesan di muka gue jadi super kering. Gue tuh nggak cocok sama salicylic acid. Kayaknya pernah gue bahas selintas di review skincare, tapi lupa yang mana. Pokoknya acid yang itu kulit gue nggak bisa terima. Sementara di orang-orang yang cocok, acid tersebut hasilnya emang bisa bagus. 
Jadi ya, emang ini kesalahan gue dari awal, padahal biasanya kalau mau beli barang tuh tab di kompi gue sampe berderet kecil-kecil saking semua artikel dan semua yutup gue tontonin. Tapi yang ini langsung beli aja udah. Apakah ini yang namanya cinta buta? 😂😂😂😂😂😂
Tapi gue nggak nyesel, sih. Sekarang gue punya sabun mandi yang wanginya enak, namanya Pixy White-Aqua Pore Cleanse Micellar Foam, hehehehe....
Temans ada yang udah pernah coba facial foam ini? Share ceritanya atuh di komen 😉


Senin, 22 Juni 2020

Matematika Skincare



Hai, assalamualaikum, Bloggies ^_^
Kayaknya gue udah pernah nyebut tentang matematika skincare di postingan IG, tapi waktu itu emang sekilas banget, sih. Nah, mumpung lagi ada contoh kasusnya nih, gue mau bahas lebih lanjut, ya. Cuma sharing aja sih, berdasarkan pengalaman. Sama sekali nggak bermaksud bilang bahwa gue expert banget di bidang ini. Yaelah hitung-hitungan ginian doang sih, semua orang pasti bisa. Dasar aja gue kekurangan konten 😂😂
Udah jadi rahasia umum dong ya, kalo skincare itu soal cocok-cocokan. Jadi, gue nggak akan bilang skincare yang lebih mahal itu berarti lebih bagus. Hitung-hitungan ini buat ngasih gambaran aja bahwa yang kita anggap mahal sebetulnya mah 11-12 dengan yang tampak murah.
Oke. Here we go.


Mudah-mudahan masih ingat, di postingan sebelumnya gue ngereview Biokos Age Renew Anti Wrinkle Night Cream. Nah, krim itu kan, beratnya 30gr, harga Rp80.000-an something, lupa angka tepatnya. Kedaluwarsa 12 bulan. Gue pakai dua kali sehari walau nggak rutin karena kalo malam banyakan lupanya. Dengan pemakaian tak teratur itu, dia habis tanggal 3 Juni 2020. Gue pertama kali pakai tanggal 21 April 2020 (iya, untuk skincare dan make up gue emang punya buku khusus untuk catatan kapan beli dan tanggal kedaluwarsa). 
Kalau dihitung secara kasar, nggak sampai dua bulan sudah habis, ya? Padahal pemakaian nggak rutin. Kalau rutin, mungkin sebulan juga habis? 😅
Ya udah, anggaplah gue pakainya hemat-hemat deh, jadi dua bulan habis. Berarti dalam setahun gue beli 6 kali.
Rp80.000,00 x 6 = Rp480.000,00
Atau kalau sebulan habis, berarti pengalinya 12.
Rp80.000,00 x 12 = Rp960.000,00 huwow! Fantastis ya, angkanya.


Bandingkan dengan Sukin Purely Ageless Rejuvenating Day Cream yang udah tiga kali gue repurchase. Berat 120ml, harga Rp239.000,00 (beli jastip), kedaluwarsa 6 bulan. Emang sih, kayaknya gede banget, tapi pas kok, 6 bulan habis. Itu juga sama, sehari dua kali.
Dan oh iya, besaran pemakaian yang gue aplikasikan di wajah sama banyaknya ya, jadi bukannya mentang-mentang Sukin kelihatannya lebih mahal terus gue jadi pakainya eman-eman. Nggak gitu. Justru karena dia 6 bulan habis makanya gue pakainya secara normal. Sama aja kayak waktu pakai Biokos.
Nah. Masuk ke hitungan.
Berarti dalam setahun gue cuma beli moisturizer dua kali, nih. 
Rp239.000,00 x 2 = 478.000,00

Untuk manfaatnya ya, balik lagi ke masing-masing orang. Yang gue kasih di sini kan, cuma hitung-hitungan. Soalnya gemes kalau gue beli skincare terus ada aja yang komen, "Ya ampun moisturizer doang harganya segitu ? Emang nggak ada yang lebih murah?"
Nyoh udah gue kasih ya, hitung-hitungannya ^_^
Khusus buat gue, nyari skincare emang susah soalnya kulit gue sensitif, udah gitu kering. Udah dua kali berurusan dengan dokter kulit gara-gara salah skincare, gue rasa sih udah cukup nunjukin itu cara Tuhan untuk bilang, "Del, hati-hati ngerawat wajah, ya. Itu titipan-Ku, lho."
Dokter kulit kan mahal, yakk? 
Makanya begitu nemu moisturizer yang cocok, tetap aja beli itu lagi, itu lagi, hehehehehe....
Temans pakai moisturizer apa? Bisikin dong, siapa tau sama ^_^


Rabu, 13 Mei 2020

Review: Lip Coat Pumpkin Sorbet BLP dan Dear Amelia dari Dear Me Beauty


Hai hai, assalamualaikum, Bloggies ^^
Karena sepertinya pemerintah Indonesia memutuskan memakai opsi herd immunity untuk menghadapi Covid-19 ini, ada kemungkinan kita para emak akan ketemu lagi dengan acara-acara seremonial sekolah. Jadi, hari ini gue mau share my go to school lipsticks 😃
Gue nggak tau ini udah template di sekolah atau gimana, tapi di SD anak-anak gue tuh tren lipstik emak-emaknya adalah warna merah. Berhubung gue nggak suka lipstik merah (menurut gue warna itu terlalu tricky, ya nggak sih?), jadi gue pilih yang warnanya lebih bold tapi tetap cocok di kulit gue.  Seenggaknya, secara penampilan, gue bisa blend in di pergaulan mamak-mamak, gitu 😂😂
Sebelum membaca lebih lanjut, postingan ini diperuntukkan bagi orang-orang yang emang lagi nyari rekomendasi lipstik, ya. Jadi kalau kamu nggak berminat, feel free to hit that X button on the top right 😊 



1. Lip Coat Pumpkin Sorbet by Lizzie Parra (BLP)

Pilihan pertama gue jatuh ke Lip Coat BLP warna Pumpkin Sorbet karena warnanya terracota dengan hint cokelat. 
Lipstik ini, kalau digunakan secara tepat, dapat memperlihatkan sisi antagonis pemakainya sehingga cocok dipakai kalau kamu mau sumbang saran pas rapat ngomongin soal sumbangan sekolah awal tahun 😁
Teksturnya thick, pigmentasi juara. Sekali oles langsung nutup warna asli bibir. 
Sebetulnya Pumpkin Sorbet paling bagus untuk diombre karena warnanya yang "antagonis" tadi, tapi entah kenapa gue ada kepuasan tersendiri kalau jalan-jalan pakai warna ini 😂😂
Harga Rp139.000,00. Kamu bisa beli di website-nya, www.blpbeauty.com atau di Sociolla atau di online market place lainnya 😊 




2. Lip Coat Dear Amelia dari Dear Me Beauty X Nissan Wafers

Pilihan kedua gue adalah Dear Amelia dari Dear Me Beauty yang kolaborasi dengan Nissin Wafers. Warnanya cantik, coral dengan hint peach. 
Pigmentasinya bagus dan dia ngasih rasa nyaman di bibir. Enak banget dipakainya, nggak lengket dan nggak bikin bibir kering. Wanginya juga enak.
Cocok untuk menghadiri bagi raport dan pesta ulang tahun temannya anak-anak di resto heits. Tapi harus dimasukin tas ya, supaya bisa di-reapply karena warnanya gampang kehapus.
Harga Rp129.000,00. Setau gue dulu brand ini ada website-nya, tapi tadi gue cek kok nggak ada. CMIIW.
Bisa dibeli di Sociolla dan toko-toko online lainnya.



Yang gue suka dari lipstik-lipstik warna terang gini adalah: mereka ngasih ilusi gigi jadi lebih putih dan wajah jadi cerahan, hehehehehe....
Kamu punya rekomendasi lipstik buat emak-emak juga? Share dong di komen 😊


Minggu, 03 Mei 2020

Review: Biokos Age Renew Anti Wrinkle Night Cream



Hai, assalamualaikum, Bloggies 😊
Apa kabar? Sehat semua? Sudah masuk fase emotional acceptance atau masih denial nih, tentang Covid-19? Harapan gue sih, semoga udah pada bisa me-manage perasaan masing-masing, ya. Waspada boleh, panik berlebihan jangan. Semoga wabah ini segera berlalu, ya.
Gue kayaknya sempet depresi deh, waktu Covid-19 awal-awal terkonfirmasi masuk Indonesia. Selama tiga minggu pertama itu, gue males banget yang namanya skincare routine. Boro-boro tiga-empat step. Bisa mandi dua kali sehari aja udah pencapaian yang luar biasa. Untungnya, karena masih rajin mantengin twitter, gue nemu satu trit dokter yang emang psikiater yang bilang kalau malas merawat diri itu termasuk salah satu gejala depresi. Ya udah, gue paksain diri deh, mulai ngerutinin step skincare lagi. 
Terus, moisturizer gue habis. Gue biasanya pakai Sukin Purely Ageless Rejuvenating Day Cream yang gue jastip karena varian yang itu belum masuk Sociolla 😅
Sayangnya, mbak yang biasa gue jastip itu negaranya kena lockdown. Jadi, gue berpikir untuk ganti moisturizer. 
Selama pandemik ini berlangsung, gue cuma berani paling jauh pergi ke Tokem kan ya, Toko Kemanggisan. Di situ tuh ada counter kosmetiknya yang lumayan lengkap. Jadi ya udah, gue ke situ sekalian belanja beras dan lain-lain. 
Pilihan jatuh ke Biokos Age Renew Anti Wrinkle Night Cream karena ya, selama ini gue cocok produk Martha Tilaar. Apalagi ini kan, tingkatannya udah advance alias emang untuk usia gue. 
Nggak ada yang day cream, makanya gue beli yang night. Ini juga tinggal satu-satunya 😅
Segitu dulu pengantar ngalor-ngidulnya, sekarang kita masuk ke review.


Kemasan  



Dari segi kemasan, gue suka banget. Warna hijau yang mewah (walaupun gue sempat bersitegang dengan bapake yang kekeuh bilang ini warna biru) dan bentuknya yang bulat bikin jatuh cinta. Ringan karena isinya emang cuma 30gr. 
Di dalam kotak, ada sendok untuk mengambil produk demi menjaga kehigienisan. Tapi gue sih, ngambilnya pakai jari langsung, hehehe....
Sudah halal MUI, no animal testing. Masa pakai 12 bulan setelah dibuka. Masa kedaluwarsa tertulis di kotak maupun di kemasan, jadi nggak usah khawatir terlewat.




Diklaim mengandung bio macroalgae essential yang membuat kulit lebih lembap, kencang, dan halus, kerutan lebih samar dalam waktu 4 minggu, dengan catatan dipergunakan bareng serum dan day moisturizer-nya 😁


Ada tutup plastik transparan di antara tutup kemasan dan produk, sehingga insyaallah lebih kedap dan menjaga produk terpapar bakteri dari luar.
Harganya lupa, sekitar 80 ribuan gitu kalau nggak salah. Jauh sih kalau dibandingin Sukin, so I'm not complaining 😊


Ingredients 

Water, Glycerin, Propanediol, Squalane, Cyclopentasiloxane, Isononyl Isonanoate, Polymethylmethacrylate, Shorea Stenoptera Seed Butter, Cyclotetrasiloxane, Cetearil Alcohol, PEG-100 Stearate,Hydroxyethyl Acrylate/Sodium Acryloyldimethyl Taurate Copolymer, Undaria Pinnatifida Extract, Palmitoyl Tripeptide-1, Palmitoyl Tetrapeptide-7, Tocopheryl Acetate, Bisabolol, Maltose, Trehalose, Sodium PCA, Allantoin, Sodium Hyaluronate, Glucose, Ceteareth-33, Ethylhexyl Glycerin, Farnesol, Pentylene Glycol, Sodium Lactate, Fructose, Citrid Acid, Urea, Sodium Hydroxide, Butylene Glycol, Caprylic/Capric Triglyceride, Polysorbate-20, Carbomer, Sodium Chloride, Phenoxyethanol, Chlorphenesin, Fragrance.


Kesan Saat dan Setelah Pemakaian

Produknya harum. Sebagai orang yang dari dulu nggak suka skincare yang harum-harum banget, Menurut gue wanginya terlalu keras. Tapi balik lagi ke preferensi masing-masing orang, ya.
Sesuai namanya, Anti Wrinke Night Cream, tentu aja produk ini teksturnya krim. Warnanya putih. 
Ini gue contohin pemakaiannya di tangan ya, supaya bisa lihat perubahannya saat baru di-apply dan setelah agak menyerap.



Nah, biasanya gue tuh beli day cream buat dipakai sekaligus sebagai night cream. Ini pertama kalinya sok-sokan ngide melakukan kebalikannya. Jadi, pertama kali gue pakai ya, besok paginya setelah beli.
Di wajah, pemakaian pertama berasa banget kulit kayak ketarik-tarik. Asli. Gue sampai amazed sendiri. Sejujurnya gue nggak ngerti apakah ini pertanda bagus atau nggak karena selama pakai Sukin gue nggak pernah ngerasain sensasi kayak gini. 
Lama banget nyerapnya. Dan lengket. Gue itungin udah dua jam masih lengket aje. 
Tadinya gue pikir karena yah, namanya juga night cream. Dia emang dimaksudkan untuk bekerja perlahan selama kita tidur supaya hasilnya maksimal, gitu. Etapi dipakai sebagai night cream juga pas paginya nggak terasa perubahan yang wow 😅  
Oiya, buat ngakalin penyerapannya, gue pakai sheet mask sebagai step terakhir. Baru deh nyerap sempurna di kulit. Nggak tiap hari juga kok, pakai sheet mask-nya. Cukup dua kali seminggu.
Rasa ketarik-tarik udah hilang di hari ketiga. Mungkin kulit gue udah bisa beradaptasi.
Gue pakai Biokos Age Renew ini di step keempat, setelah cleanser, pre-serum, dan toner. Dalam dua minggu pemakaian, belum terlihat perubahan berarti. Wajar sih, di kotaknya juga diklaim hasil baru terlihat setelah 4 minggu, syarat dan ketentuan berlaku 😁 


Kesimpulan

Mau habisin dulu, baru bisa bikin kesimpulan akhir. 😃

Selasa, 25 Februari 2020

Review: Hanyul Artemisia Miracle Relief Essence


Sebetulnya udah lama beli Hanyul Artemisia Miracle Relief Essence ini, tapi seperti biasa, gue mau coba sebulan-dua bulan dulu sebelum bikin review. Daripada baru sekali dua kali pake gue langsung gembar-gembor, eh ternyata udahannya kulit bermasalah, ya kan?
Jadi ceritanya first essence gue habis. Gue nggak mau repurchase. Bukan karena nggak cocok, tapi karena mau coba merek lain aja. Dulu gue pakenya Nature AGE Intense Treatment Essence, udah pernah gue tulis review-nya di sini
Scroll deh tuh di IG @weare.beauty , tertarik Hanyul. Nggak bisa ngasih tau ingredients-nya karena ditulis pakai hangul. Pokoknya modal percaya ajalah 😅
Yang gue tau, dia diklaim mengandung 100% bunga Artemisia yang tumbuh di Pulau Ganghwa, Korea. Berfungsi melembapkan dan mengurangi inflamasi kulit. 
Isi 150ml dengan masa kedaluwarsa 12 bulan setelah segel dibuka. Saran gue sih, catat kapan pertama kali produk dipakai, supaya jangan sampai sudah lewat masa kedaluwarsa masih dipakai, terus begitu kulitnya kenapa-kenapa, produknya yang disalahin. Ditulis di post it lalu ditempel di botolnya juga bisa.
Pakainya nggak usah disayang-sayang juga. Toh tetap aja setelah 12 bulan nggak boleh dipakai lagi. Keterangan kedaluwarsa ada di bagian bawah botol. 


Hanyul essence ini gue gunakan sebagai pre-serum, jadi digunakan setelah cuci muka, sebelum toner. Teksturnya bening, encer, ada aroma rempah tapi lembut banget yang menguap begitu produk diaplikasikan ke wajah. Cara pakainya, tuang beberapa tetes di tangan, ratakan, lalu tepuk-tepuk lembut ke sekeliling wajah. Gue pakai dua kali sehari.
Ini hasilnya setelah pemakaian lima hari. Etapi kulit gue emang nggak pernah terlalu bermasalah, sih. Cuma keringnya aja yang nggak nahan 😅


Oiya, siapa tau belum pada follow, akun IG gue @della_daud ya, hihihihi.. (ujung-ujungnya jualan).
Untuk harga, Hanyul Artemisia Miracle Relief Essence ini emang rada mahal sih, Rp450.000,00. Tapi coba deh, harga segitu dibagi 365 hari, dibagi dua lagi (karena pakainya dua kali sehari). Murah, kan? Begitu cara gue ngehitung harga skincare supaya nggak nyesek-nyesek amat, hehehe....
Temans ada yang pakai ini juga? Atau punya rekomendasi pre-serum yang bagus? Share yuk di kotak komen 😊

Kamis, 06 Februari 2020

Maunya Hemat Tapi Kok....

Hai haiiiii....
Kalo kalian punya banyak waktu luang, silakan baca postingan ini sampai selesai. Tapi risiko tanggung sendiri, ya 😁 😁 😁
Hari ini gue mau cerita kalo gue lagi mau hemat nih ceritanya. Mulai dari bawa bekel sampai ngurang-ngurangin online shopping. Nah, kemaren gue mau transfer uang ke rekening anak-anak. Biasanya gue via ATM aja di ATM lantai satu, kena deh tuh biaya admin antarbank Rp6.500,00, kan. Kali dua, totalnya Rp13.000,00. Terus gue sok-sokan ngide, ah, jalan kaki aja ke bank terdekat. Toh emang deket dari kantor, kira-kira 400 meter, lah. Jalan kaki deh. Nah, di antara kantor gue dan bank itu, ada Indomaret yang buka Point Cafe. Gue mampir dong, beli satu iced caramel frappe dengan pikiran, "Buat temen nunggu, deh."
Bikos of bank yang ini emang pelayanannya lelet.
Jadi ya gitu, gue jalan kaki dengan niat menghemat Rp13.500,00, tapi beli iced caramel frappe yang harganya Rp30.000, 00 😅😅
Cuma kalo dipikir-pikir lagi, gue nggak nyesel, sih. Seenggaknya iced caramel frappe enyak dan bikin hati seneng. 
Tapi setelah gue inget-inget, ini bukan yang pertama, sih. Dulu waktu zaman masih ngangkot juga pernah. Jadi kan biasanya gue turun di Slipi Jaya, lanjut jalan kaki. Soalnya ongkos ojek ataupun bajaj mayan, cuy. Dikali 20 hari bisa buat nambah tabungan.
Nah, pada suatu hari, hujan deres banget. Saking sayangnya sama uang, daripada keluar buat bajaj, mendingan gue nunggu di dalem mall-nya. Itu pikiran awam gue. Ternyata hujannya awet, cuy. Mbaknya laper. Beli deh ramen di Gokana. Total makan bisa buat tiga kali naek bajaj, ahahahahahahaha.. 😅😅😅
Tapi ya, lesson learned. Sejak itu, kalo ngalamin kejadian yang sama, gue langsung cuss naek bajaj, terus masak aja indomie rebus di rumah.
Temans punya pengalaman serupa nggak? Cerita dong di kotak komen 😊