Rabu, 08 Agustus 2012

UU Republik Indonesia No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Kalau dipikir-pikir, sejak pertama kali kerja, saya sudah akrab dengan cuti melahirkan, ya.

Pekerjaan pertama saya tahun 2003 itu adalah menggantikan staf yang cuti melahirkan. Nah, saya sempat kaget ketika pada awal bulan, Bu Manager minta saya ke bank untuk mengurus beberapa hal, sekaligus mentransferkan gaji si staf itu. Dengan polos saya tanya, "Lho, tetap digaji ya, Bu?"
"Iya dong, sesuai dengan UU Tenaker. Bos kita kan, orang Korea. Mana mau dia melanggar hukum di Indonesia. Dia itu paling takut sama polisi dan pengadilan."
(Belakangan baru saya ketahui bahwa kadang sesama orang Indonesia justru sering mengabaikan hak-hak pegawainya, yang sesama orang Indonesia, dalam hal cuti. Sigh.. Makanya saya sering ketawa kalau ada yang bilang punya Bos Korea itu nggak enak, kejam, nggak punya perasaan, dll dll. Alhamdulillah Bos Korea saya dulu nggak begitu, cuma tegas aja, tapi hak-hak pegawai sangat diperhatikan.)
Setelah 3 bulan, tadinya Si Bos keberatan melepas saya yang menurutnya punya etos kerja lebih baik daripada yang saya gantikan itu, tapi dia lebih keberatan lagi kalau harus tambah satu staf, hihihi..
Yang ada, kontrak saya diperpanjang 3 bulan lagi. Tapi saya berasa ngerebut rezeki orang, ya nggak sih? Akhirnya dengan tau diri, setelah 3 bulan perpanjangan itu, saya yang resign. Kuliah lagi ambil Akta IV, trus jadi guru, deh. 
Terus terus, waktu saya hamil, kan udah tahun ketiga saya jadi guru. Saya cuti melahirkan selama 1,5 bulan sebelum dan 1,5 bulan sesudah melahirkan dengan gaji pokok yang tetap ditransfer ke rekening.
Sekarang, mendengar nasib seorang kenalan yang terancam cuti melahirkan tanpa digaji, barulah saya cari-cari info tentang cuti pegawai yang diatur dalam undang-undang. Siapa tau memang ada pembenaran untuk tidak menggaji pegawai perempuan yang cuti melahirkan.
Dan tahukah teman-teman, yang saya temukan sebetulnya sungguh mengharukan karena pemerintah ternyata begitu melindungi kita, para perempuan pekerja. Sayang banyak perusahaan yang masih abai tentang hal ini. 
Nah, supaya saya nggak dianggap provokator, berikut saya copy-paste hak-hak cuti kita itu:

Pasal 79
(1) Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh.
(2) Waktu istirahat dan cuti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), meliputi :
a. istirahat antara jam kerja, sekurang kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja;
b. istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 2 (dua) hari untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu;
c. cuti tahunan, sekurang kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus; dan
d. istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 (dua) tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun.
(3) Pelaksanaan waktu istirahat tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf c diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
(4) Hak istirahat panjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf d hanya berlaku bagi pekerja/buruh yang bekerja pada perusahaan tertentu.
(5) Perusahaan tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatur dengan Keputusan Menteri.

Pasal 80
Pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada pekerja/ buruh untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya.

Pasal 81
(1) Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

Pasal 82
(1) Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
(2) Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.

Pasal 83
Pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.

Pasal 84
Setiap pekerja/buruh yang menggunakan hak waktu istirahat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) huruf b, c, dan d, Pasal 80, dan Pasal 82 berhak mendapat upah penuh.

Catatan: bold dan warna merah adalah tambahan dari saya sendiri. 

Nggak masuk tiga bulan dan tetap digaji, apakah sama dengan makan gaji buta?
Menurut saya sih, nggak juga, ya. Karena ketika perusahaan menerima saya, berarti mereka menerima saya satu paket: sebagai pegawai yang dianggap kompeten, sekaligus sebagai istri dan kelak bisa hamil. Mereka siap terima risiko itu, berarti mereka siap menanggung konsekuensinya. Kalau nggak, dari awal aja mereka bikin peraturan tertulis bahwa pegawai perempuan dilarang hamil. 
Itu sih, menurut saya. Etapi saya jadi mikir juga, kira-kira apa ya, alasan yang membuat pegawai yang cuti melahirkan tetap digaji? Ada yang mau sharing? :)

27 komentar:

  1. sebenarnya peraturan2 itu ada di buku saku yg harusnya dibagi2in ke semua karyawan ketika mereka mulai bekerja di suatu perusahaan. Perusahaan ku dulu gitu, ngasih buku saku peraturan itu tapi walopun di tulis disitu soal cuti haid perempuan 2 hari sebulan itu, kenyataannya klo aku bilang ga masuk gara2 mau cuti haid malah diketawain wkwkwkwk...

    BalasHapus
  2. gue juga bosnya orang Korea. Tapi baik banget. Kemaren gue cuti 3 bulan penuh. Soalnya gue sengaja ambil cutinya pas minggu2 mau lahiran. Biar ngurusin babynya full 3 bulan.

    Selaen gaji yang tetep ditransfer, bonus pun jugaaa.. hihihi senenngnyaa..

    Kalo menurut gue, kenapa karyawati harus tetep digaji, ya karna untuk memenuhi kebutuhan si bayi pas udah lahir *tersotoy* :D
    soalnya gue ngerasin banget, waktu Radit lahir, pas ayahnya lagi ga kerja..bener2 cobaan bgt waktu itu *curcol* :D

    BalasHapus
  3. Penerapan UU KetenagaKerjaan di Indonesia masih labil dan perlu ada penengah. Soal THR, dan kasus tenaga Outsourcing masih menjadi benalu dalam hubungan industrial di Indonesia saat ini

    BalasHapus
  4. Mantan Boss ku yang mendzalimi aku itu bukan orang KOREA. tapi luar binasa kejamnya! Huhuhu...
    Salah satu staff adminya yang lagi hamil tua, eh dipaksa cuti melahirkan satu bulan aja dong dong dong. Belum juga lepas 40 hari, sudah harus masuk kerja, coba.

    Katanya kalo temenku ngajuin cuti 3 bulan, ya udah gak usah masuk sekalian.
    Padahal bukan perusahan ecek-ecek, melainkan Perusahaan Terbuka, yang komplit dengan tim HRD, Tim Legal endbre endbre. Untungnya HRD menolak. Kayaknya takut juga sih kalo dibredel sama Depnaker soalnya kami bilang ke HRD akan nyanyi-nyanyi di media kalo ide gila boss nya dijalani.
    Kayaknya perlu tindakan tegas deh untuk para pengusaha nakal yang mengkebiri hak-hak pekerja wanita yang sudah dijamin dengan jelas di UU. *kalo perlu mantan boss gw yang dzalim itu aja yang dikebiri!*
    **maapkeun puasa-puasa tapi napsu geram!**

    BalasHapus
  5. ada juga loh yang cuti melahirkannya hanya 1 bulan tapi gak dihaji, itu juga bukan orang korea bossnya :)

    BalasHapus
  6. ya ampun nikmat banget kayanya kalo cuti haid itu bener2 terealisasii...hohoho..

    BalasHapus
  7. @Mila Said Bukti bahwa masih banyak orang yang nggak peduli hak-haknya sendiri ya, Mil. Kalo gw mah peduli banget :D

    BalasHapus
  8. @Desi Haaaaaahhh.. baik bangeeeeettt.. mudah-mudahan perusahaannya selalu berkah ya, Des. Btw apakah di sana ada lowongan? :p
    Iya ya, bisa juga itu jadi alasan kenapa cuti melahirkan tetep digaji.
    Emang rezekinya Radit, tu :)

    BalasHapus
  9. @Indah Kurniawaty Iya, bener Ndah, perlu ditindak tegas. Ini juga gw lagi mikir untuk ngadu ke media, mumpung masih ada temen di T*mp*, K*r*n T*mp*, S*nd*, M*tr* ** dan TV*ne.
    *sodorin aer dingin ke Indah*
    *eh, lagi puasa ya :p*

    BalasHapus
  10. @Asep Haryono Iya Mas, miris banget. Dan ada aja komentar miring yang ngomong, "Lagian, siapa suruh mau jadi bawahan."
    Yah, siapa suruh juga barang2 serba mahal, pendidikan mahal, rumah sakit mahal, jadi istri-istri pun terpaksa harus bekerja, ya nggak? :)

    BalasHapus
  11. @Lidya - Mama Cal-Vin Innalillahi, perusahaan apaan tuh, Mam? Moga cepet bangkrut deh, amin..

    BalasHapus
  12. @Santril Ya kan? Ya kan? Gw sih alhamdulillah nggak bermasalah sama haid Tril, tapi kan lumayan kalo sehari-dua hari dalam sebulan bisa istirahat di rumah, di luar wiken dan libur nasional, hohohoho.. *mulai ngerti kenapa banyak perusahaan nggak mau menerapkan cuti ini. Gawat kalo pegawainya pada kayak gue :p*

    BalasHapus
  13. Hi Della ,

    Sala Kenal , Saya evi dari Digital Flash , ingin menawarkan job review untuk Product Unilever (molto)

    Jika tertarik untuk menulis product tersebut bisa raplay ke email ini :

    evi@dgflash.com atau fabi@dgflash.com
    di tunggu feedback nya

    Trimakasih

    BalasHapus
  14. Untunglah karena aku kerja di perusahaan telekomunikasi yang notabene harus ikut aturan, ya masalah cuti gak terlalu ya, cuma ya itu, fasilitas utk MPASI di kantor gak ada, trus pas aku mau ambil cuti tahunan gak bisa, akhirnya harus bawa si kecil ke kantor. Ah, derita banget yak? T_T

    Klo cuti melahirkan digaji? Ya iyalah, pekerja wanita itu kan manusia, udah kodratnya melahirkan dan punya anak, jadi klo gak digaji itu sama aja diskriminasi perempuan...

    BalasHapus
  15. Bahkan sampai saat ini masih ada karyawan yang dibayar dengan gaji di bawah UMR, kasihan kan.

    BalasHapus
  16. @travelbag Hi Mbak Evi, terima kasih tawarannya, ya :)

    BalasHapus
  17. @Mayya Wah, Little Bee dibawa ke kantor? Seneng dong temen-temenmu dapet maenan, May :D

    BalasHapus
  18. dulu waktu aku kerja yang pertama juga sepertinya merengut hak-hakku ya setelah baca postingan ini hehhe.. tapi berhubung masih cari pengalaman,apalagi baru lulus kuliah dan nunggu cari yang lebih baik jadi dibetah-betahin deh.. :p

    BalasHapus
  19. @Nophi Sah-sah ajalah Nop kalo cuma buat jadi batu loncatan :)
    Yang nggak boleh tu kalo ud tau dizalimi tapi masih bertahan di situ. Kalo kata Bang Oma, "Terlalu!" :D

    BalasHapus
  20. sy lupa dulu wkt sy masih ngantor kyk gimana ya? tp kyknya kalo melahirkan tetep di gaji deh.. :D

    BalasHapus
  21. kantorku bosnya Jepang, dan keknya perusahaan asing kebanyakan emang lebih takut kalo ga ngikutin aturan pemerintah ya, masa udah jd 'tamu' terus kurang ajar, ya ngga? he he

    Tapi kalo aku hamil pengennya lgsg resign aja pas sblm lahiran Bubil hohohoho

    BalasHapus
  22. @rindrianie Oke, noted: abis ini cari perusahaan asing, hihihi..
    Eh jangan langsung resign dong Rin, abisin dulu cuti 3 bulannya, baru resign, hehehe..

    BalasHapus
  23. wah jadi lebih tau nih tentang hak2 para pekerja. Tapi kalo kasusnya kayak temen Mbak, bisa gak yah nuntut hak2nya??? #mikir

    BalasHapus
  24. @Sarah Bisa aja sih Sar, tapi bayar pengacara kan mahal :D

    BalasHapus
  25. salam kenal mbak, baca-baca trus nyantol kesini hehehehe. Makasih buat infonya soal tenaga kerja, yah kalo di perusahaan tempat sy kerja cuman dapat cuti melahirkan 2 bulan aja, tapi disyukuri aja deh karena masih digaji :P

    BalasHapus

Mau komen? Silakan :)