Senin, 16 Januari 2012

Waktu Aku Sama Mika

Salah satu hal menyenangkan sejak novel saya terbit tiga tahun lalu adalah, saya bisa bertukaran novel dengan penulis-penulis lain, hehehe..

Apa? Kamu nggak tau kalau para penulis sering barter buku? Saya kasih tau, ya, kami memang melakukan itu dengan senang hati. Bahkan beberapa nama besar seperti Anindita S. Thayf  (Pemenang Sayembara DKJ 2008) dan Ollie pun bersedia barter dengan saya yang jelas-jelas masih amatir ini.
Sekarang, tambah satu orang lagi penulis best seller berjudul Waktu Aku Sama Mika yang bersedia tukaran buku dengan novel saya. Namanya Indi. Klik di sini untuk berkenalan dengannya. Etapi kayaknya teman-teman blogger sih sudah kenal dia, ya :D

 

Paketnya tiba di rumah pada hari Jumat. Kejutan menyenangkan sepulang kantor, mendapati sebuah paket di atas meja ^___^



Sebetulnya, inilah yang membuat saya ketagihan barter buku. Tanda tangan penulisnya,khusus buat saya. 
Istimewa banget, kan? ^___^


Waktu Aku Sama Mika adalah novel yang ditulis begitu sederhana, gaya penceritaannya seperti gaya penulisan diary, tapi tampaknya kesederhanaannya itu yang  membuatnya spesial. Diary ditulis sejak 2 September 2006 hingga 6 Mei 2008, bercerita tentang kenangan Indi dengan pacarnya, Mika, yang meninggal karena AIDS pada tahun 2004.
Saya membacanya pada hari Sabtu berhujan, kurang mellow apa, coba :D
Saya suka membaca betapa besar cinta Mika pada Indi dan betapa bijaksananya dia, misalnya waktu Mika bilang, cara terakhir menghilangkan rasa sakit adalah biarkan rasa sakit itu hilang sendiri (hlm. 37), juga waktu Mika menjelaskan tentang Tuhan, Apa pun nama yang kita pakai untuk menyebut Dia, Tuhan tetap satu (hlm. 47)
Dan waktu dia ngegendong Indi di punggungnya supaya Indi tau gimana rasanya lari, Subhanallah.. meleleh saya.. T^T
Dan halaman yang berhasil membuat pipi saya basah adalah hlm. 136, Suatu hari nanti, aku ingin pergi ke surga. Di tempat yang sama dengan Mika. tidak lebih baik, tidak lebih buruk. Sama. Agar aku bisa menjadi hadiah untuknya. Yang istimewa. 
Tapi isi novel ini tak melulu sedih, kok. Ada juga cerita-cerita lucu yang terjadi antara Mika dan Indi. 
Sebetulnya, saya bisa saja sih, cerita keseluruhan isi novel ini. Tapi, lebih baik kamu cari sendiri di toko-toko buku. Baru saja cetak ulang bulan Juni 2011 kemarin.
Beli, ya? Dan bersiaplah tersenyum sambil terharu bersama Indi dan Mika ;)


29 komentar:

  1. cerita nyatakah Mba Della? sepertinya menarik :)

    BalasHapus
  2. @Mbak Fanny: iya, Mbak :)
    @Dee: iya Dee, diangkat dari kisah nyata. Beneran bagus ;)

    BalasHapus
  3. seru ya..
    kalo tukeran nota dinas dari aku mau ga?? hehe

    BalasHapus
  4. jadi pengen baca jugaa
    =D

    BalasHapus
  5. @Nia: dasar kamu. Coba hubungi penulisnya langsung deh :D

    BalasHapus
  6. Bikin juga dong Mbak novelnya "Waktu Aku sama Wajan-kuu" :D

    BalasHapus
  7. @Sarah: ide bagus, sih. Masalahnya, emangn ada yang mau baca tentang berapa kali saya bikin pancake gosong sampai akhirnya sukses? :D

    BalasHapus
  8. yang sakit AIDS itu siapa tante? Mika ato Indi nya ?

    BalasHapus
  9. Hai Irra :)
    Yang AIDS itu Mikanya, Indi nama penulisnya :)

    BalasHapus
  10. iya... novelnya keren banget...
    wah asyiknya *mupeng*
    pengen dapat paket yang isix tanda tangan dari penulis aslinya langsung...
    huhuhuhu

    BalasHapus
  11. @Suci: doain aja mudah-mudahan nanti ada book signing penulisnya di Makassar ;)

    BalasHapus
  12. pengen banget bisa nerbitin buku/novel kaya gini. *harus sering singsingkan lengan baju nih. sukses buatmu ya Del

    BalasHapus
  13. senangnya ya dell, ditukerin novel sama indi. ah, kamu mau nggak tukeran sama ebook karya saya?. hihihi.. padahal ebooknya gratisan. :P

    BalasHapus
  14. Istilahnya, penulis meng-endorse (mempromosikan) karya penulis lain. :)

    BalasHapus
  15. Oh ya Mbak, saya udah kirim ya cerita The Novelist ke email Mbak. :)

    Part 2 nyusul. :)

    BalasHapus
  16. dhe kapan dapat kiriman novel plus tanda tangan dari buk bil?? hix hix :((

    mosok cuma dhe yang belum pernah baca novelnya buk bil.. tega ah buk bil #mewek

    BalasHapus
  17. @Mira: bisa kok, suatu hari nanti insya Alloh pasti bisa ^_^

    BalasHapus
  18. @Gaphe: buat kamu gratis aja deh kalau nanti kamu ke Jakarta, hehehe..

    BalasHapus
  19. @Asop: bisa dianggap promo juga, sih, hehehe..
    Btw e-mail nya nggak ada, kirim lagi doong.. plis plis..

    BalasHapus
  20. @Dhe: cep cep ceppp.. *kasih balon dan es krim ke Dhe*
    Kan aku udah pernah bilang, yang di Palembang ada jatahnya sendiri kok, udah disisihin. Tenang aja ;)

    BalasHapus
  21. @Adu: okeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee...!

    BalasHapus
  22. Bubiiill...aku baca udh lama novel itu, emang keren sangat ya.
    http://rindrianie.wordpress.com/2010/06/22/tanpa-syarat/

    novel kedua-nya Indi jg bagus lho ;)
    http://rindrianie.wordpress.com/2011/06/08/karena-cinta-itu-sempurna/

    BalasHapus
  23. Orin: asiiiiiiiiiiikkk.. pinjem dong :D

    BalasHapus
  24. wah, terima kasih banyak sudah repot2 mereview. terharu aku jadinya :') syukurlah kalau mbak suka, atau setidaknya menikmati, jadi makin semangat nulis.
    oya, terakhir cetak itu desember 2011, mbak. yg punya mbak itu baru cetakan ke 7(atau 8??) sepertinya :)

    BalasHapus

Mau komen? Silakan :)