Rabu, 14 Desember 2011

Tips Mencari Penerbit

Walaupun baru menerbitkan satu novel, sudah banyak yang minta tips-nya apa yang membuat sebuah naskah lolos di penerbit mayor. Hmmmm... apa ya *GarukKepala

Mungkin saya share dulu cerita penerbitan naskah saya, ya ^_^
Sebetulnya sih, naskah Tinta Cinta Sitti Hawwa saya itu sudah lama mengendap di PC. Sudah sekitar 2-3 tahun. Lalu, suatu hari, ketika sedang antre di sebuah toko buku besar untuk membayar novel-novel yang saya beli, tiba-tiba pikiran nakal itu melintas, Perasaan gue beli novel orang melulu. Kapan dong, orang lain beli novel gue?
Akhirnya begitu pulang, saya buka file naskah saya itu, perbaikan sana-sini, ubah plot, tambah adegan, dll. 
Tiga hari kemudian, naskah itu pun rapilah.
Dan karena sejak pertama kali membaca The Da Vinci Code yang hak ciptanya dibeli Penerbit Serambi, saya sudah memendam cita-cita bahwa naskah ini harus diterbitkan oleh Serambi, maka saya cari situsnya dan saya kirim naskah saya ke sana lewat e-mail. Saat itu Jumat malam.
Senin siangnya, pihak Serambi menelepon dan mengatakan mereka berminat menerbitkan naskah saya, tetapi di bawah bendera Zaman. Masih satu penerbitan juga dengan Serambi, tapi Zaman mengkhususkan diri pada penerbitan naskah-naskah Islami.
Saat itu bulan Desember 2008. 
Lima bulan kemudian, setelah melalui satu kali pemeriksaan naskah dan satu kali pemeriksaan layout serta proses pemilihan cover, novel saya beredar di toko-toko buku.
Jadi, alhamdulillah saya tidak mengalami yang namanya ditolak penerbit. 

Tapi, berdasarkan tips dari sana-sini, yang perlu kamu lakukan bila kamu ingin menerbitkan buku, adalah:
1. Punya naskah. Kalau nggak, ngapain kamu repot-repot cari penerbit? :p
Siapkan juga ringkasan cerita, maksimal 1 halaman saja, tak usah terlalu banyak. Usahakan ringkasan ceritanya menarik, kalau bisa bahkan lebih menarik daripada isi novelnya #eh
Siapkan juga CV-mu kalau-kalau kamu punya pengalaman lebih di bidang penulisan ^_^
2. Tentukan target pembaca kamu, perempuan atau laki-laki, berapa range usianya, apa jenisnya, apakah drama, thriller, horor, komedi, dll. Apa kelebihan naskahmu dibanding naskah lain yang telah beredar di pasaran. Ini penting, sebab penerbitan adalah jenis usaha money oriented, bukan badan amal. Jadi, mereka harus yakin bahwa naskahmu itu punya pangsa pasar yang luas. Setidaknya yang bisa membuat mereka balik modal ^___^
Jangan pernah bilang, "Oh, semua orang bisa baca novel saya. Nggak terbatas usia."
Mungkin kalau naskahmu adalah naskah anak-anak, kamu bisa mengatakan itu. Tapi bahkan naskah cerita anak pun mempunyai ciri-ciri tertentu, seperti tidak boleh menggambarkan adegan kekerasan, sedapat mungkin tidak ada tokoh yang meninggal, dan tidak mengandung kata-kata kasar. Tentu saja hal-hal seperti itu akan kurang mendapat sambutan dari pembaca dewasa, kan? Itulah sebabnya, segmented readers are important.
3. Siapkan notes dan pulpenmu, lalu pergi ke toko buku, cari novel yang sejenis dengan naskahmu, lalu catat nama penerbit dan no. telepon yang bisa dihubungi. Jangan sekali-kali menghubungi penerbit yang mengkhususkan diri pada novel-novel thriller bila genre novelmu adalah drama romantis. Percuma.
4. Saat menelepon, tanyakan syarat-syarat yang dibutuhkan penerbit itu, misalnya berapa jumlah minimal halaman, apa font-nya, dll. Biasanya standar penerbit adalah 150 halaman kuarto, font Times New Roman ukuran 12, spasi 1 atau 1,5. Tanyakan pula apakah naskahmu dikembalikan atau tidak. Ada yang mengembalikan, ada yang tidak. Tapi kamu tak usah khawatir bahwa kelak naskahmu akan diterbitkan tanpa sepengetahuanmu sebab kalau naskahmu dianggap tak layak muat, mereka akan menghancurkan naskah itu. Lagi pula, menerbitkan novel tanpa sepengetahuan penulisnya, tergolong tindak pidana. Jadi, kamu bisa menuntut penerbit itu ^_^
Tanyakan berapa lama kamu harus menunggu karena kebijakan tiap penerbit berbeda-beda. Ada yang harus menunggu 2 bulan, 3 bulan, bahkan setahun. 
Ingat: kamu TIDAK BOLEH mengirim satu naskah pada dua penerbit berbeda dalam waktu bersamaan. Sebab, bila ternyata naskahmu diterima di kedua penerbit itu dan kamu terpaksa menolak salah satu penerbit dengan alasan naskah itu sudah diterima oleh penerbit lain, namamu akan disebarkan ke penerbit-penerbit lain untuk di-black list. Nggak mau, kan?
5. Tentukan prioritas. Buatlah daftar penerbit dari yang paling kamu inginkan, misalnya karena genre novel-novel yang ia terbitkan cocok dengan seleramu, atau karena penerbit itu sudah punya nama, atau karena hal lain, terserah kamu. Buatlah minimal 10 penerbit. Mulai kirim ke prioritas no.1. Kalau dikembalikan, kirim ke prioritas no.2. Dikembalikan lagi, kirim lagi ke prioritas no.3. Begitu terus. Sambil menunggu, mulailah mengerjakan naskah kedua. Jangan seperti saya, merasa cukup dengan satu novel, hehehe..
Kirimkan naskah lengkap dengan ringkasan cerita dan CV-mu.
6. Dua hari setelah naskah dikirim, proaktiflah. Telepon si penerbit, tanyakan apakah naskahmu yang berjudul XXYYZZ sudah mereka terima. Sebutkan nama lengkap dan judul naskahmu dengan jelas. Ini penting, sebab sebuah penerbit bisa menerima belasan hingga puluhan naskah dalam sehari, jadi sangat penting bagi mereka untuk mengingat namamu.
Kalau kamu cukup percaya diri, kamu juga bisa minta nama editornya, sehingga kali lain kamu menelepon ke sana, kamu bisa minta bicara langsung dengan beliau.
7. Dua pekan kemudian, telepon lagi si penerbit untuk menanyakan apakah editor sudah membaca naskahmu yang berjudul XXYYZZ atau belum. Sekali lagi, ingat untuk menyebutkan namamu dan judul naskahmu dengan jelas.
8. Tunggu pemberitahuan selanjutnya sambil terus berdoa ^___^

Bila naskahmu dinyatakan diterima, baca dua tips terakhir ini:
9. Kisaran royalti adalah 10% hingga 15%. Kamu BERHAK bertanya pada penerbit apakah kamu akan dibayar dengan royalti atau beli putus. Jangan ragu untuk menolak penerbit yang mengajukan royalti terlalu rendah, sebab, hei, naskah itu kan, "anak"mu? Hasil keringat dan kerja kerasmu, kan? Masa mau kamu jual murah dengan iming-iming "yang penting terbit"?
Siapa yang bisa bilang menulis novel itu mudah, hayoooo? Jangan mau digratisin, ya ;>
Saya termasuk yang sangat memerhitungkan hal ini, sebab ketika penerbit menelepon saya, pertanyaan pertama saya adalah, "Royaltinya berapa persen?"
Kedengarannya matre, ya? Hehehe..
10. Saat penandatanganan kontrak, bubuhkan paraf/tanda tanganmu di setiap lembar kontrak tersebut, baik yang diberikan untukmu maupun yang dikembalikan ke penerbit. Untuk jaga-jaga ^_^
Paraf/tanda tangannya kecil saja, bisa di tiap sudut kiri bawah atau kanan bawah. Kepercayaan itu penting, tapi kewaspadaan jauh lebih penting ^__^ 

Segitu saja, sih, sejauh yang saya tau. Mungkin ada yang bisa menambahkan? Maklum, saya juga masih pemula :D

41 komentar:

  1. Tengkyu Kak Del.... Now i know... :-)

    BalasHapus
  2. Sama-sama, Bets. Alhamdulillah kalau berguna ^_^

    BalasHapus
  3. terima kasih ya bu della. ini berguna sekali. tapi masalahnya draft di komputer saya belum kelar2. doakan ya biar cepat rampung, jadi bisa cepet2 nyari penerbit, dan biar cepet dapat jodoh. *APA INI???* :P

    BalasHapus
  4. @Cindy: ayolah dikelarin. Nanti aku beli, deh ^_^

    Btw, emang dokter gigi kemaren belum ditindaklanjuti ya? :D

    BalasHapus
  5. waaaah :)
    saya sampai sekarang masih nunggu approval itu naskah Jurnal Titik Dua belom ada kabar.. T_T

    BalasHapus
  6. @Ayu: coba tanya lagi penerbitnya, berapa bulan biasanya suatu naskah dinyatakan diterima atau ditolak. Jadi kamu bisa siap-siap kirim ke penerbit lain, gitu ^_^
    Apa genre-nya? Kalau bau-baunya agak Islami, coba aja kamu kirim ke penerbit zaman ;)

    BalasHapus
  7. della... ada pe-er untukmu. cekidot di sini:
    http://artikamaya.blogspot.com/2011/12/question-for-me.html#more

    :)

    BalasHapus
  8. wah tips yg sangat baguz makasih mbak bisa jadi referensi nih

    BalasHapus
  9. @Maya: Aaaaaaaaaaaa.. tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk.. *larihisteriskelilingruangan
    @Zh!nTho: sip! Abis itu, terbitin ya naskahnya :D

    BalasHapus
  10. tips keren..
    tapi suer aku ga pede untuk menerbitkan sebuah tulisan
    kayaknya bakalan katrok
    waktu anaz minta ijin ambil beberapa artikel untuk diterbitin aku juga malah bingung sendiri
    heheh katrok..

    BalasHapus
  11. @Rawins: yo wis disimpan saja tipsnya, siapa tau berguna suatu hari nanti ;)

    BalasHapus
  12. Errrrr... Mbak, entah saya lupa atau gimana, tapi saya baru tahu kalo Mbak udah ngeluarin satu buku. :D

    BalasHapus
  13. @Asop: lah Asop, ketauan nih nggak apdet ke blognya Nia Angga dan Pu :D

    BalasHapus
  14. Jiye jiye...
    Kapan mbak nerbitin novel lagi x)

    BalasHapus
  15. @Una: ntar ah, masih nunggu wangsitnya muncul :D

    BalasHapus
  16. waaah.. hebat, ternyata pengarang novel yah hihihii...

    BalasHapus
  17. @Mila: nggak sehebat itu, kok. Masih lebih hebat yang ikutan flashmob ;)

    BalasHapus
  18. del..padahal si asop udah baca kopdaran kita itu di blogku..dasar ajah...asop markosop..hehhe..piss sop...

    waaahhh, tq.....ya jeng..ini tips yg gunaaa bgt untuk ku...
    halamanku baru 27 neeehhh,,150 ...aku datang...^^

    BalasHapus
  19. @Pu: jangan-jangan Asop memorinya jangka pendek, hehe..
    Ups, jangan marah, Sop :p

    Ayo smangat, Pu ^O^

    BalasHapus
  20. wah, nice tips :)) semoga teman2 yg mau menerbitkan novel jadi lebih berani mengirimkan naskahnya, ya, amen :)
    kalau aku sendiri ditemukan penerbit, bukan aku yg mengirim naskah. lucunya, poin no 3 jadi gak berlaku, karena penerbitku genrenya dewasa dan cenderung berat tapi malah memutuskan untuk membukukan naskah aku yg ditulis waktu umur 15 tahun, hehehe. dan novel perdanaku genre'nya tweenies and teens (11 tahun sampai early 20) :) oya, aku jadi kepengen baca novel mbak, deh :)

    BalasHapus
  21. @Indi: heeeiii.. makasih udah mampir ^_^
    Berarti penerbitnya jeli melihat peluang, buktinya Waktu Aku Sama Mika jadi bestseller, kan? ^_^
    Novel aku udah nggak beredar lagi di pasaran, Ndi. Kalau mau barter, yuk :D

    BalasHapus
  22. waduh mbak ,

    saya termasuk orang yang tidak bisa menulis.
    paling pusing kalau ada pelajaran mengarang karena bingung mau nulis cerita apa.

    btw, lain kali share dong tips biar bisa jadi penulis, minimal punya ide yang ditulis.

    BalasHapus
  23. Mbak Del, saya juga suka banget nulis. Tapi ga pede bwt ngirim k penerbit. Sekali2nya cuma ngirim ke Majalah sastra Horison pas SMA, alhamdulilah terbit. Tapi ya itu, kayany kok tulisan saya jelek.
    Tips Mbak dela saya crtl+s yah

    BalasHapus
  24. @Kevin: nanti lama-lama blog saya jadi blog tutorial penulisan, dong. Terus kapan saya bisa nyampahnya? Hehehe..
    @Marchei: kata dosen aku dulu, kalau setelah karya kita terbit/dimuat lalu kita merasa tulisan kita nggak bagus, itu artinya cara pandang kita sudah bertambah. And its a good sign ^___^
    Silakan ctrl+s, senang rasanya kalau tips saya bisa berguna bagi orang lain ;)

    BalasHapus
  25. Sukron atas tips-tipsnya. Sekarang jadi paham cara bertemu penerbit. Sukron.

    BalasHapus
  26. @Mawan: afwan..
    alhamdulillah kalau berguna ^_^

    BalasHapus
  27. pasti berguna.salam kenal

    BalasHapus
  28. Ini tips yang penting banget buatku...
    #padahal nulis cerpen sebiji aja hampir sebulan.
    Hahaha...

    BalasHapus
  29. wah, keren bu tips-nya. mau ta' praktekan ah, terutama yg poin 9, hehehe... *matre kambuh*

    kunjungan perdana.
    Salam kenal ya bu ^___^

    BalasHapus
  30. Informatif banget Mbak, pengen sih bisa punya karya tulisan yg bisa di baca banyak orang...Tp belum bisa bikin tulisan yg mengalir dengan alurnya natural, apalagi dalam frame novel..

    BalasHapus
  31. baca balasan komen utk Indi... udah nggak beredar di pasaran Del? masih ada stok kah? bikin giveaway gih Del... hehehe.. *just a suggestion*

    tips2nya mantap nih Del.. duluuuu pengen deh jd penulis.. tp kok skrg jd minderrrrr yah.. hehehe...

    BalasHapus
  32. Ah keren bgt deh Bubil naskahnya lgsg diterima n dapet royalti guede *takjub*

    BalasHapus
  33. Salut bubil...

    Terus berkarya ya *menyemangati diri juga ;)

    Gitu ya caranya, kusimak baik2.

    Yang no 3, agak kurang ngerti, kenapa kok percuma?

    Dukung Tia, iya GA dengan Novelnya Della, mauuu....

    Btw, TFS ya...

    BalasHapus
  34. Naskah yang dikasiin ke penerbit mesti udah rampung? Ga boleh cuma ngirim sinopsis ya?

    BalasHapus
  35. Jeng Del, pertama selamat yah atas penerbitan bukunya. Mbok yah kirim2 gituh sebiji buat bundanya Double Zee ;-)

    Kedua, setuju ama Jeng Tia. Dibikin GA atuh Jeng supaya kite2 si banci kuiz ini bisa ikutan baca bukunya hehee

    BalasHapus
  36. balasan di blog'ku: ayo, kirim aja alamatnya ke email aku ya, mbak :))

    @ thia: masih ada, mbak. dua2nya sudah cetak ulang kok :)

    BalasHapus
  37. @Mauna: insya Alloh. Salam kenal juga :)
    @Kakaakin: gpp Kak, aku juga belum tentu sebulan sekali kok, nulis cerpen. Yang penting rutin :)
    @Shine: salam kenal juga :)
    @Ririe: kata orang, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Banyak-banyak latihan :) *sokwise :p*
    @Hani: salam kenal juga :)

    BalasHapus
  38. @Thia: iya, udah nggak beredar. Palingan beli online :D
    Giveaway juga lagi diusulin sama Pu, ntar cekidot aja di blognya dia :D
    @Orin: alhamdulillah.. mungkin karena emang visi-misinya cocok juga sama penerbitnya :)
    @Mbak Yunda: soalnya kalau penerbitnya sudah konsen di satu genre, yang mereka dahulukan pasti novel-novel yang sejenis. Kecuali kalau mereka punya rencana menerbitkan novel bergenre lain.
    @Rain: nggak bisa, Rain.
    @Jeng Susan: mahal ongkirnya dong, Jeng :D
    @Indi: aku udah e-mail alamatku, ya. Alamat kamu, dong, ke dellafirayama@yahoo.com ;)

    BalasHapus
  39. Mksh infonya kak..
    Jadi termotivasi utk menulis novel. Tp benar2 blm ngerti soal tata cara nulis novel..

    BalasHapus

Mau komen? Silakan :)