Kamis, 10 November 2011

Dear Pahlawanku - Tan Malaka

Assalamualaikum, Ibrahim gelar Tan Malaka.
Maaf bila surat ini kurang berkenan di hati Anda. Ah, tapi saya yakin Anda tak merasa terganggu. Anda kan, orang yang sangat terbuka bagi pemikiran-pemikiran baru :)
Pertama, izinkan saya mengungkapkan cinta saya pada Anda. 


Cinta itu datang ketika saya tahu bahwa Anda berpendapat, sekolah adalah tempat terbaik untuk mencetak kader-kader baru dan mengeluarkan anak-anak jalanan dari kemiskinan. Anda juga berpendapat, anak-anak tak harus melulu dicekoki dengan kurikulum. Mereka juga harus diberi kebebasan seluas-luasnya untuk mengembangkan hobi mereka. Hei, tahukah Anda, kita sependapat dalam hal ini. Tapi saya tak sehebat Anda yang berani berbuat dengan mendirikan sekolah-sekolah. Saya hanya mampu menjadi guru, itu pun hanya empat tahun.
Sedangkan Anda, selain mendirikan sekolah yang makin lama makin besar saking banyaknya peminat, Anda juga menanamkan sikap percaya diri bagi para buruh untuk melawan penjajah Belanda. Tahukah Anda, hingga kini pun, para buruh masih begitu percaya diri memperjuangkan hak-hak mereka. Mungkin ruh Anda masih hidup dalam jiwa-jiwa tertindas? Saya kurang tahu.
Anda mungkin sosialis, tapi Anda bukan PKI. Bukankah Anda akhirnya memisahkan diri dari mereka? Mungkinkah itu sebabnya, pada tanggal 28 Maret 1963, melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 53, Presiden Soekarno menetapkan Anda sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional? Saya juga kurang tahu.
Dear Tan Malaka,
satu lagi yang sangat saya suka dari Anda, Anda menuliskan ide-ide Anda. Kurang lebih ada 26 buku yang Anda tulis. Mungkin karena kita sependapat bahwa usia ada batasnya, tetapi tulisan hidup selamanya :) 
Sayangnya, hanya dua dari buku-buku yang Anda tulis yang pernah saya baca, Manifesto Jakarta dan Dari Penjara ke Penjara.Tapi tak apa, kan? Kalau Anda tak menulis, mungkin saya tak akan pernah mengenal Anda. Saya tak akan pernah tahu bahwa Anda memiliki pendapat-pendapat seperti, Selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan putsch/kudeta atau anarkisme, itu hanyalah impian seorang yang sedang terlanda demam.
Dan juga, Tetapi birokrasi dan otokratisme dalam partai tak dapat dihapuskan dengan makian-makian atau dengan meninju meja, tetapi dengan membiasakan bertukar pikiran secara bebas dan kerja bersama-sama semua anggota.
Juga yang paling saya suka, Putusan yang setengah betul tetapi dikerjakan dengan gembira oleh seluruh barisan, lebih baik daripada keputusan yang bagus sekali tetapi dikhianati oleh setengah anggota.
Anda seorang yang punya visi dan konsisten menjalankannya. Sayang, masih banyak orang yang berpandangan miring tentang Anda. Padahal yang perlu mereka lakukan hanyalah membaca buku-buku Anda. 
Dear Tan Malaka,
alangkah indahnya andai masih ada yang seperti Anda di Indonesia sekarang ini. Ah, tapi kita tak boleh berandai-andai, kan? Kita harus bekerja, seperti yang selalu Anda tanamkan. 
Sekian dulu surat dari saya.
Wassalam,


Pengagummu




Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh LozzIyha dan Puteri


Sponsored by :


48 komentar:

  1. Gudlak, Jeeuunnkkkk....

    *tos*

    BalasHapus
  2. Tengkyuuuuuuuu.. Jeng :D


    *tos*

    BalasHapus
  3. “Selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan putsch/kudeta atau anarkisme, itu hanyalah impian seorang yang sedang terlanda demam.”

    Quote yang seharusnya diamini setiap WNI agar tak ada anarki di Indonesia tercinta.

    Semoga menang, mbak. Saya suka suratnya. Juga salam kenal dari Jepara.

    BalasHapus
  4. Iya Mbak, memang seharusnya begitu, ya. Tan Malaka menulis itu puluhan tahun lalu, sampai sekarang malah makin banyak anarki terjadi di Indonesia.. T_T

    Makasih kunjungan baliknya ya, Mbak :)

    BalasHapus
  5. saya malah lum pernah baca buku tan malaka, pengen beli :D

    BalasHapus
  6. yup sosialisme enggak identik sama komunis. komunis itu malah sisi negatifnya dari sosialisme. :)

    BalasHapus
  7. Terima kasih untuk partisipasinya..

    Artikel sudah kami catat sebagai peserta Kontes Dear Pahlawanku

    Salam merdeka..!

    BalasHapus
  8. Insya Allah, sukses di kontes.

    Saya masih mengumpulkan ide dulu.

    BalasHapus
  9. Wuah, subhanallah, ada Mas Abi yang pernah menginspirasi saya :D
    Makasih ud mampir, Mas.
    Mudah-mudahan idenya cepat terkumpul, ya ^_^

    BalasHapus
  10. @Arif: saya juga boleh baca punya teman, itu juga fotokopian, :D
    @Iman: eh, gpp kan saya panggil Iman? Di about me-nya boleh toh? :D iya, sayangnya masih banyak orang yang menyamakan keduanya.
    @Sarah: sama-sama, kamu juga ^_^
    @Penyelenggara kontes: salam merdeka juga, Mbak ;)

    BalasHapus
  11. Wow kereeen :D
    Kalau saya saya lebih senang dengan Buya Hamka :D Saya suka dengan pemikiran2nya :D

    BalasHapus
  12. Hai Iam, makasih ud mampir ^_^
    Buya Hamka juga saya suka. Eh, kalo gitu, kamu ikutan dong kontes kirim surat ini. Lumayan loh hadiahnya.. ^O^

    BalasHapus
  13. Sukses ya mba bwt kontesnya

    BalasHapus
  14. "Tetapi birokrasi dan otokratisme dalam partai tak dapat dihapuskan dengan makian-makian atau dengan meninju meja, tetapi dengan membiasakan bertukar pikiran secara bebas dan kerja bersama-sama semua anggota"

    kereeennn... ^^d

    BalasHapus
  15. @Cikvee: makasih kunjungannya ^_^
    @Miss U: emang keren, makanya saya jatuh cinta pada beliau. Makasih ud mampir, ya ^_^

    BalasHapus
  16. Setuju bahwa sebuah karya tulis akan membuat penulisnya dikenang abadi. (mudah2an jadi motivasi untuk menulis...!).

    BalasHapus
  17. @Abinya Gilang: iya benar :)

    BalasHapus
  18. jaman sekarang susah nemu orang yang bener2 bisa disebut pahlawan ya, kecuali ibu.

    BalasHapus
  19. Yup Rain, bener banget. Sepertinya, tiap ibu adalah pahlawan bagi anak-anak mereka.
    Eh, tapi ayah juga pahlawan, lho :D

    BalasHapus
  20. Tan malaka, sebuah nama besar bagi bangsa Indonesia namun kurang dikenal. Saya yakin perjuangan beliau sangat berarti bagi bangsa ini.
    Semoga dengan surat ini kita bisa meneladani apa-apa yang telah beliau berikan kepada Indonesia

    BalasHapus
  21. lhaa kok ilang komenku ...

    BalasHapus
  22. Sejujurnya aku belum tahu tentang Tan Malaka. Aku juga belum pernah membaca karya2nya...

    BalasHapus
  23. Ternyata sosok Tan Malaka diliputi kontroversi ya?

    Semoga sukses ya kontesnya.. :D

    BalasHapus
  24. Adakah yang berani menjadi pahlawan pemberantas korupsi hingga tuntas di negeri kita ini???

    BalasHapus
  25. makasih ya mbak dah ikutan dear pahlawanku. perspektifnya tan malaka yang kusuka adalah bahwa anak diberi kebebasan sesuai hobinya. hmm..suka bgt. salam pu

    BalasHapus
  26. Kapan ya di Indonesia muncul tokoh-tokoh semacam Tan Malaka

    matur nuwun untuk pertisipasinya mbak Della

    BalasHapus
  27. aduh, jujur saya jurang tahu Tan Malaka itu siapa.
    Tapi namanya pernah dengar. Setelah abca tulisannya, setidaknya dapat gambaran siapa itu Tan Malaka :)

    BalasHapus
  28. Wow cool mbak, semoga si Tan Malaka baca *eh*
    Hehehe...

    Semoga menang yaaa...

    BalasHapus
  29. @Mbak Fanny amin.. makasih doanya, Mbak ^_^
    @ Mandor amin.. komennya bukan hilang, tapi dimoderasi dulu dan mohon maaf lama karena saya libur internet saat weekend ^_^
    @ Mbak Reni iya Mbak, kontroversial :D
    Makasih doanya ^_^

    BalasHapus
  30. @Mas Mufti waaahhh.. kalau itu, saya kurang tahu, Mas :)
    @Pu sama-sama ^_^
    Iya, itu juga yang saya suka dari beliau :)
    @Mas Akbar insya Alloh nanti ada Mas, selama kita semua terus berusaha ^_^

    BalasHapus
  31. @Sulung soalnya pahlawan Indonesia banyak banget sih ^_^
    Makasih ud mampir, ya ^_^
    Una kalau dia beneran baca, gimana ya? Hehehehe..
    Sama-sama Una, gudlak juga yaaa.. \^O^/

    BalasHapus
  32. aku ga ke MK tadi mbak :)

    mbak tau pak satya arinanto gak? mantan dosen pembimbing skripsiku. :)

    BalasHapus
  33. Lah si Pu, dibalesnya di sini :D

    Nggak kenal, Pak Satya itu di lantai berapa? Aku nggak kenal semua lantai, orang di sini juga belom ada setahun :)

    BalasHapus
  34. saya salut ama langkah perjuangan tan malaka. ibrahim mendapat julukan hero of lonely. karena dia berjuang sendiri dan dalam pengasingan. dan sejarahnya yang diburamkan oleh penguasa. di sini letak heroismenya

    BalasHapus
  35. tan malaka hidup dalam pengasingan, menjadi pahlawan kesepian, tapi jasanya luar biasa. BTW komentar sebelum ini kok hilang ya. apa gak masuk hitung

    BalasHapus
  36. @Mas Rusydi: iya, Mas. Mungkin memang benar apa kata banyak orang, penulisan sejarah bergantung pada siapa penguasanya saat itu.
    Komen Mas bukannya hilang, cuma belum dimoderasi saja :)
    Makasih sudah mampir, ya ^_^

    BalasHapus
  37. baru mo ikutan kontesnya, eh.. ternyata dah lewat. hahahhaha..

    nasib dak sempat BW cak ini dah. T,T

    BalasHapus
  38. Etapi masih banyak kontes lain loh, Acci ;)

    BalasHapus
  39. Salam kenal, mbak.

    Sendalnya itu loh,,, lucu...

    BalasHapus
  40. Sama-sama. Sendalnya limited edition, nih, nggak ada lagi yang punya :D

    BalasHapus
  41. jaman sekarang susah nemu orang yang bener2 bisa disebut pahlawan ya, kecuali ibu.

    BalasHapus
  42. Mungkin juga ya, tapi yang pasti bukan saya, walaupun saya juga seorang ibu, tapi saya jauh banget nih dari perilaku pahlawan, hehehe..
    Makasih udah singgah ya, Herman ^_^

    BalasHapus
  43. “Putusan yang setengah betul tetapi dikerjakan dengan gembira oleh seluruh barisan, lebih baik daripada keputusan yang bagus sekali tetapi dikhianati oleh setengah anggota.”

    suka deh suratnya mak.. ^^

    BalasHapus
  44. @Epay, makaciiiiihhh.. >O<

    BalasHapus
  45. Tan Malaka, ehmm,,, tak banyak cerita tentang beliau, namun artikel ini memberikan cerita lebih, dengan penuturan yang enak dibaca,, good choice.. :)

    -Artikel Sedang dinilai-

    BalasHapus
  46. Aduh Iyha, jadi deg-degan, euy :D

    BalasHapus

Mau komen? Silakan :)