Senin, 25 Oktober 2021

Review: Primera Essence Miracle Seed


Hai hai Bloggies, apa kabar? 😊
Sesuai janji gue di IG (itu lho yang @della_daud, ayo dong follow kalau belum 😆), gue akan review Primera Essence Miracle Seed. Niatnya mau di-review setelah lebih dari tiga bulan pemakaian. Apa daya post ini nginep aja di draft berbulan-bulan sampai akhirnya hari ini Primeranya habis dan gue baru inget kalau review-nya nggak kunjung jadi lalalalala.... 
Ya nggak apa-apa kan ya, yang penting gue nggak ingkar janji. Cuma molor aja 😬

1. Beli di mana?

Karena ini produk Korea, gue sarankan beli di tempat yang menurut kalian terpercaya. Harga emang pasti lebih mahal dibanding produk lokal, maka curigailah kalau ada yang jual separuh harga dari harga yang sebenarnya. 


Gue beli di official shopee-nya @weare.beauty. Waktu itu yang dijual seri apa gitu, seri eco apa deh lupa, pokoknya dijual udah jadi satu paket berisi sebotol Primera 
Essence Miracle Seed dan sekotak tisu isi 70 lembar. Gue nggak ngitungin satu-satu ya, tertera di kotaknya kalo isinya 70 😁
Ada promo free gift berupa Super Black Seed Serum 10 ml, Organience Water 50 ml, Organience Emulsion 50 ml, Natural Rich Cleansing Foam 30 ml, dan sheet mask 1 pcs. 

2. Kemasan

Primera Essence Miracle Seed ini botolnya tinggi ramping, transparan, tutupnya warna hitam. Botolnya terbuat dari kaca, tapi enteng. 


IMHO gue emang lebih milih pre-serum yang botolnya kaca karena rasanya lebih aman aja gitu. Isi 150 ml, harganya Rp700.000,00, masa kedaluwarsa 12 bulan.
Harganya segitu karena yang gue beli yang seri apa itu tadi ya, kalau harga normal sekitar Rp500.000,00-an.



3. Review

Bening, teksturnya encer, tapi nggak bisa dibilang kayak air juga, sih. Di pre-serum sebelumnya, gue biasanya cuma tuang dua-tiga tetes di telapak tangan terus tepuk-tepukin di muka. Nah, si Primera ini juga gue perlakukan sama, kan. Kok nggak ada perubahan berarti. Setelah seminggu pemakaian dua kali sehari, baru deh gue gugling. Ternyata gaaaaaaaaeeessss ternyataaaaaaa produk ini disarankan digunakan dua kali sehari menggunakan kapas, dan setiap pemakaian harus 2,5 ml. Makanya disediain kapasnya itu. 150 ml:2,5 ml=60 kali pemakaian. Dibagi dua (karena pakainya 2 kali sehari) sebotol ini harusnya habis dalam sebulan. Nyesek woy mikirin harganya 😂😂😂  
Jadi kalau kamu pernah pakai ini juga terus komentar, "Ah, nggak ada perubahan."
Gue tanya dulu nih, udah 2,5 ml belum tiap kali pakai? 😁


Sebagai bukan-anak-sultan, gue menolak pakai 2,5 ml tiap pakai. Tapiiiiiiii gue penasaran 2,5 ml itu berapa tetes? Akhirnya gue coba pakai sendok obat. Ternyata untuk memenuhi 2,5 ml, butuh 30 tetes, Saudara-Saudara! Gue tampung di mangkuk kecil kan. Itu tuh banyak banget. Terus gue tuangin ke kapasnya, lalu tap-tap di muka sambil ngingat-ngingat rasanya. Akhirnya dengan mengucapkan bismillah, gue memutuskan kayaknya untuk penggunaan kayak yang biasa gue lakukan, cukup dengan 10 tetes.
Dan emang terasa bedanya setelah gue pakai 10 tetes tadi dengan waktu gue cuma pakai 2-3 tetes. Terasa banget. Mungkin karena kulitnya juga udah gang of 40 plus, sih 😂😂
Produk yang digunakan setelahnya bisa menyerap lebih sempurna, kulit juga terasa lebih lembap, dan warna kulit jadi lebih cerah. Tapi nggak mengurangi dark spot, ya. Bisa dilihat di muka gue.   
Tentu aja karena ini produk skincare, dan seperti udah sering gue bilang, jangan harap hanya dengan satu produk terus kulit kita jadi kinclong sempurna. Setelah pakai Primera, gue lanjut dengan toner, serum, dan moisturizer. 


4. Ingredients 

Water, Propanediol, Nelumbo Nucifera Germ Extract, Niacinamide, Glycereth-26, Glycerin, 1,2-Hexanediol, Methyl Gluceth-20, Citric Acid, Xanthan Gum, Ethylhexylglycerin, Sodium Citrate, Adenosine, Disodium EDTA, Sodium Hyaluronate, Saccharomyces Ferment, Potassium Hydroxide, Acetic Acid.

Semoga review amatir ini bisa membantu teman-teman yang lagi cari info tentang Primera Essence Miracle Seed, ya ^_^


Senin, 12 April 2021

Review: Biokos Derma Bright Intensive Brightening Night Cream



Hai hai Bloggies, assalamualaikum ^_^
Hari ini gue mau bahas night cream yang udah gue pakai selama sebulan lebih ini: Biokos Derma Bright Intensive Brightening Night Cream. Panjang yakk namanya 😅
Gue beli di official shopee-nya Martha Tilaar, harganya Rp281.200,00. Berat 25gr. 
Di kotaknya tertulis tanggal kedaluwarsa. Masa pemakaian 12 bulan. Diproduksi di laboratorium Martha Tilaar di Prancis. No animal testing.
Kemasannya cantik, berbentuk tabung (gue nggak pernah suka skincare yang kemasannya kotak, nggak tau deh kenapa 😂😂). Cara membuka tutupnya, ditekan dulu ke bawah, baru diputar. Saat pertama beli, lubang tempat keluar produk masih disegel. Untuk mengeluarkan produknya, tekan bagian atas. Produk akan keluar lewat lubang kecil yang ada di sana. Gue suka sih bagian ini, karena meminimalkan produk terkontaminasi dengan udara luar dan nggak akan kena colek-colek tangan kita.
Walaupun judulnya krim malam, krim ini gue pakai dua kali sehari. Gue sengaja nggak beli day cream-nya karena mengandung SPF, sedangkan gue juga udah pakai sunblock. 
Untuk kemasan sih gue approved, ya💗





Sekarang, masuk ke produk. Berbentuk krim yang teksturnya berubah jadi agak berminyak setelah dioles ke kulit. Harumnya lembut, mewah IYKWIM. Berhubung selama ini gue pakai krim malam yang mengandung kadar kelembapan yang masih terasa sampai besok paginya, bisa dibilang gue kecewa dengan Biokos Derma Bright ini. Dia cepet banget nyerapnya di kulit. Nggak sampai 10 menit. Bagus buat base make up. Tapi kan bukan itu yang gue cari dari sebuah krim malam.. 😔




Klaim yang tertulis di kotaknya adalah spot concealer (membantu menyamarkan noda hitam), lightening dan brightening karena mengandung alpha arbutin, juga berfungsi sebagai anti aging dan anti irritant.
Dari semuanya, yang jelas terlihat dalam satu bulan adalah efek brightening-nya. Berhubung setiap hari ngaca, terlihat kok kalo kulit gue jadi lebih cerah. Bukannya jadi lebih putih, ya. Tapi lebih cerah. Cuma berhubung gue kan nggak pakai produk ini aja, melainkan serangkaian produk mulai dari cleanser sampai toner, jadi mungkin yang terjadi adalah kesemuanya bersinergi maksimal sehingga hasilnya juga bagus 😊 

Terakhir, gue tulis ingredients-nya apa aja:
Water, Cyclotetrasiloxane, PEG/PPG-18/18 Dimethicone, Cyclotetrasiloxane, Dimethicone Crosspolymer, Dimethylcyclosiloxane, Pentylene Glycol, Glycerin, Butylene Glycol, Carbomer, Polysorbate 20, Palmitoyl Pentapeptide-4, Dimethiconol, Silica, Squalane, Alpha Arbutin, Sodium Chloride, Propylheptyl Caprylate, Sodium Palmitoyl Proline, Dipropylene Glycol, Nymphaea Alba Flower Extract, Dipotassium Glycyrrhizate, Caprylic/ Capric Triglyceride, Humulus Lupulus Strobile, Saccharomyces/Xylinum Black Tea Ferment, Hydroxymethylcellulose, Phenoxyethanol, Potassium Sorbate, Silica Dimethyl Silytate, PG-3 Benzyl Ether Myristate, Chlorphenesin, Sodium Hyaluronate, Fragrance.

Kesimpulannya? Produknya bagus, di gue terbukti mencerahkan dan melembapkan. Cepat menyerap, jadinya bagus untuk base make up. Tapi nggak memberikan apa yang gue cari dari sebuah krim malam, jadi kalaupun gue repurchase palingan gue pakai untuk krim pagi ^_^


Minggu, 14 Februari 2021

Asal-Usil Duku Palembang (Berdasarkan Kesotoyan Seorang Della)


Haaaaaaaaaaaaaaaiiii Bloggies, apa kabar? 😊😊😊
Gue mau ngajak kalian agak mikir dikit: kenapa namanya duku palembang padahal di Palembang nggak ada kebun duku?
Ya karena asalnya duku itu dari Komering, daerah yang, selain menghasilkan duku, juga penghasil gadis-gadis cantik dari Sumatera Selatan. Silakan bikin risetnya kalo nggak percaya 😜
Terus kenapa dibilangnya duku palembang? (Oiya, sebelum ada yang protes, nama daerah yang digunakan untuk makanan emang pake huruf kecil, ya. Kayak bubur manado, asam jawa, nasi padang, dll. Silakan googling atau tanya ke dosen bahasa 😉) 
Nah, balik ke masalah. Yuk kilas balik ke masa kecil gue. Sejak sebelum SD, gue udah tau kalo gue ini keturunan Komering. Makanya kalo ada yang nanya, "Orang mana?"
Gue jawab dengan lantang dan jelas, "Komering."
Kemudian alur percakapannya akan jadi kurang lebih begini, "Hah? Komering? Di mana tuh?"
"Sumatera Selatan."
"Ooooohhh.. Palembang?"
"Bukan. Komering." Kekeuh karena mama-papa juga selalu bilang Komering itu bukan Palembang.
"Sumatera Selatan itu Palembang. Jadi kamu orang Palembang?"
Hening yang mencekam karena gue lagi mempertanyakan tingkat kecerdasan orang di depan gue. Ya tapi kalo tiap orang yang nanya semuanya berkomentar yang sama, ya udahlah sejak itu kalo ada yang nanya gue dari mana, bilang aja Palembang. Kelar urusan. Palingan pertanyaan selanjutnya cuma, "Oh, bisa bikin pempek dong?"
Atau, "Coba dong ngomong pake bahasa Palembang. Gue seneng dengar logatnya." 
😑😑😑
Makanya ketika menyadari kenyataan bahwa duku palembang asalnya dari Komering, gue bisa bayangin kejadian asalnya gimana.
Seorang pembeli berhenti di sebuah stan bertuliskan "Duku Komering". Terjadilah percakapan:
Pembeli: Bang, duku dari mana ini?
Penjual: Komering, Pak.
Pembeli: Hah? Komering? Di mana tuh?
Penjual: Sumatera Selatan.
Pembeli: Ooooohhh.. Palembang?
Penjual: Bukan. Komering.
Pembeli: Sumatera Selatan itu Palembang. Jadi ini duku Palembang?
Dua ratus pembeli kemudian, si abang penjual mencoret kata Komering dan menggantinya dengan Palembang. Selesai.
Cuma analisa sotoy gue ya, soalnya kata bapake yang lahir dan besar di Palembang pun, di sana emang nggak ada pohon duku. 
CMIIW and have a good weekend 😊

Kamis, 07 Januari 2021

Review: Biokos 40s Anti Wrinkle Cleanser


H
ai hai Bloggies, assalamualaikum 😊

Dua bulan lalu ketika Biore cleansing oil yang gue jadiin first cleanser mulai mendekati tetes terakhir, gue kepikiran untuk balik ke cleanser yang bentuknya krim. Sadar diri kalo kulit wajah usia 40 pasti beda dengan kondisi saat masih 30-an, gue cari kira-kira ada nggak sih, produsen skincare lokal yang peduli pada kita-kita yang usianya udah matang ini? 😜 

Gue nemu si Biokos 40s Anti Wrinkle Cleanser ini. Ukurannya bikin mikir sih, masa iya 460ml? Berapa tahun baru habis? Gue cari-cari di market place, nggak nemu yang ukuran lebih kecil. Ya udahlah gue beli aja. Toh krim malamnya juga cocok sama gue.

Gue bahas dari tampilannya dulu, ya. Asli ini nggak ada cantik-cantiknya. Kayak dibikin tanpa memperhatikan unsur estetika gitu lho. Bandingin deh sama merek-merek cleanser lain yang kelihatan kemasannya ada usaha. Yang botolnya dibikin meliuk lah, transparan, warna-warni, tutupnya cantik, dll dll. Ini cuma botol putih, ditempel stiker biru tosca, dengan font warna putih! Lupa ya, kalo gadis-gadis berusia 40 tuh mulai mengalami penurunan penglihatan? Font warna putih jelas nggak membantu dalam membaca. 


Di bagian belakang
, tertulis informasi produk, ingredients, tanggal kedaluwarsa, dan masa pemakaian yang hanya 12 bulan. Kayaknya sih kalo setahun belum habis, bakal gue terusin pemakaiannya. 


Untuk tutupnya
, ada tutup kedua sebagai pelindung supaya produk nggak terlalu banyak terpapar udara luar.  



Formulanya krim, pakai sedikit aja udah bisa buat ngebersihin seluruh wajah.



Mengklaim diri sebagai "Pembersih wajah dengan formulasi khusus untuk kulit yang terlihat lelah. Membersihkan tata rias dan debu. Menjadikan kulit tampak muda terasa halus dan segar berseri." Mengandung bio-seaweed extract dan berfungsi "to help slowing down early wrinkles."

Ya gue awalnya cencu aja nggak berharap banyak, orang gue cuma butuh buat bersihin muka. Setelah gue coba, baru gue mengerti kenapa dia mengklaim diri diperuntukkan usia 40 ke atas. Pertama, saat diaplikasikan di muka, rasanya lebih lembut dan lebih encer daripada cleanser krim lain yang pernah gue pakai. Seakan meleleh di wajah. Gue sih ngerasain banget kalo usia 40 tuh butuh formula cleanser yang lebih lembut (kulitnya udah tua woy! 😂), tapi daya bersihnya ampuh. Dan itu gue temukan di produk ini.

Kedua, ketika dihapus dengan kapas, efek melembapkan setelahnya langsung terasa. 

Di botol tertulis supaya langkah kedua adalah mengaplikasikan Anti Wrinkle Toning Lotion, tapi gue nggak beli karena kan gue double cleansing. Sayang aja rasanya beli toner kalo nggak dipakai. 

Gue pakai pagi setiap bangun tidur dan sore sepulang kerja. Selama ini gue kalo pagi cuma pakai facial foam. Tapi karena gue ngerasa facial foam aja nggak cukup untuk membersihkan residu skincare malam gue, makanya sejak dua bulan gue rutinin pakai cleanser di pagi hari juga. Beneran lho, pas diusap kapas, ada residu skincare yang nempel. 

Ingredients:

Water, Octyldodecanol, Propylene Glycol, Dimethicone, Glyceryl Stearate, Stearic Acid, Caprylic/ Capric Triglyceride, Olea Europaea (Olive) Fruit Oil, Cetyl Acetate, Stearyl Acetate, Oleyl Acetate, Acetylated Lanolin Alcohol, Phenoxyethanol, Methylparaben, Ethylparaben, Propylparaben, Butylparaben, Cetyl Alcohol, Polysorbate 60, Triethanolamine, Carbomer, Sodium Lauroyl Glutamate, Soluble Collagen, Citric Acid, Sodium Benzoate, BHT, Potassium Iodide, Fucus Vesiculosus Extract, Lactic Acid, Potassium Sorbate, Fragrance


Nah, setelah pemakaian rutin selama dua bulan, apakah benar dia slowing down early wrinkles? Jawabannya: nggak tau. Karena gue selama ini juga nggak ngerasa udah keriputan sih ðŸ˜›

Tapi untuk efek melembapkan, iya berasa. Dan gue juga ngerasa kulit gue jadi cerahan. Bukan lebih putih, ya. Tapi jadi lebih cerah. Ya pasti ngerti deh apa yang gue maksud.

Apakah Bloggies ada yang pakai ini juga? 😊


Senin, 28 Desember 2020

Review: Eau de Parfum HMNS Orgasm




Hai hai, assalamualaikum, Bloggies ^_^
Setelah kemarenan sempet perdana review dessert box,
hari ini mau sok-sokan perdana nge-review parfum 😂😂
Sebelum lanjut
, mohon dimaklumi ini yang nulis review bukan ahli wewangian ya, cuma orang yang seneng share apa pun yang dia suka. So, bear with me 😀
Jadi kan adek gue lagi hunting parfum. Belilah dia sekotak parfum HMNS starter pack. Nah, dia kan orangnya bosenan ya, baru berapa kali semprot, tuh parfum dikasihlah ke gue. 
Gue kan orangnya gampang pusing kalo nyium wangi-wangian. Selama ini setia pakai body lotion aja.  Kalopun pengin pake parfum, misalnya buat kondangan atau acara lainnya, gue pasti pake punya mama soalnya parfum beliau tuh yang asli punya dan tentu aja nggak ada pusing-pusingnya pas disemprot. Tapi ya, guenya kan rada medit ya, keluar uang jutaan buat parfum kok rasanya berat. Lagian ngapain beli kalo masih bisa minta 😝
Makanya pas dikasih starter pack HMNS ini gue sebetulnya rada skeptis. Etapi kok pas disemprot nggak ada pusing-pusingnya. Rasanya mau menjura sama yang bikin 😆
Starter pack ini isinya tiga parfum: Farhampton, Orgasm, Alpha, masing-masing berukuran 5ml. Adek gue ngasihnya pake pengantar, "Itu yang Farhampton wangi parfum cowok. Yang Alpha juga parfum cowok tapi jatuhnya lebih ke seger gitu. Yang Orgasm wangi floral, cewek banget, tapi kak Della pasti suka kok" dengan penekanan di kalimat terakhir karena dia tau banget gue nggak suka wangi-wangian yang girly 😂😂😂


Otentu aja gue masih tetap sok-sokan nggak mau nyentuh mbak Orgasm
, jadi selama beberapa hari gue cuma pake Farhampton sama Alpha ganti-gantian, dan itu tuh ya, cuma suka aja nyium wanginya, nggak ada keinginan untuk beli versi botol gedenya atau gimana. Terus tau kan kalo Della dan kualat adalah satu kesatuan? Suatu pagi, iseng aja nyemprot Orgasm ke pergelangan tangan. Dan langsung jatuh cinta dooong terus langsung ke official Tokpednya untuk beli 😂😂😂😂
Nggak ada ready stock. Adanya PO 7 hari, tapi ya udah hajar ajalah. Eh alhamdulillah sampenya lebih cepet 💓💓


Packaging-nya simpel
, kotak putih dengan logo HMNS di sebelah kiri. Kesannya elegan.
Botolnya transparan dengan tutup warna putih. Warna cairannya lebih ke salem, bening, di beberapa review lain mungkin terlihat kayak kuning, tergantung pencahayaan. Ukuran 100ml. Harga Rp298.000,00 tapi masih dapet diskon Rp50.000,00 dari pembelian adek gue 😆   
Top notes-nya Orgasm tuh apel merah, middle notes-nya mawar, melati, dan peony, based notes-nya biji vanila dan amber.
Jadi pas pertama semprot yang tercium kayak wangi buah, setelah beberapa saat jadi kayak wangi bunga, dan habis itu yang stay wangi biji vanila dan ambernya. Karena dia ngambil wangi biji vanila, makanya kayak ada campuran wangi rempahnya gitu, bukan wangi vanila yang biasa kita cium. Udah gitu, dari artikel yang pernah gue baca, Founder HMNS bilang bahwa amber yang digunakan di semua varian parfum HMNS nantinya akan membaur dengan aroma tubuh penggunanya. Jadi walaupun parfumnya sama, wangi yang stay di tubuh penggunanya bisa berbeda-beda.
Sepertinya adek gue kurang tepat kalo mendefinisikan Orgasm sebagai wangi yang cewek banget. Lebih tepatnya ini tuh wangi wanita yang matang, dewasa, dan seksi tapi disegani gitu looooohhhh.. ngerti nggak sih kira-kira. Berkat sensasi hangat dari wangi rempahnya sih, menurut kesotoyan gue 😀 
Dan cencu aja semua definisi tadi bukan gue banget, tapi gue tetap suka wanginya 😄 


HMNS (d
ibacanya Humans) ini sendiri brand lokal asal Jakarta, digawangi oleh Rizky Arief Dwi Prakoso, Amron Naibaho, dan Karina. Berdiri September 2019. Pembuatannya bekerja sama dengan perfumer Indonesia yang lulusan terbaik dari ISIPCA Paris. ISIPCA sendiri adalah institusi prestisius studi pasca sarjana untuk parfum, produk kosmetik, dan formulasi rasa makanan. Kebayang kan gimana ahlinya soal wewangian? 💓💓
Kamu udah pernah coba varian yang mana? 😊


Selasa, 22 Desember 2020

Review: Envygreen Dead Skin Cell Remover





Hai hai, assalamualaikum, Bloggies ^_^
Hari ini gue mau ngomongin salah satu produk Envygreen, namanya Dead Skin Cell Remover. Dia ini tergolong peeling. 
Tau kan kalau sel kulit kita beregenerasi setiap 28-30 hari. Pada proses ini, sel kulit baru akan keluar dan mendorong sel kulit mati ke permukaan kulit. Masalahnya, makin tua, proses ini makin sulit terjadi secara maksimal kalau nggak dibantu dengan ekfoliasi. Sel kulit mati yang menumpuk bisa menyebabkan pori-pori tersumbat, kulit jadi kusam, muncul komedo, dan jerawat. 
Nah, produk eksfoliasi yang gue pakai biasanya facial scrub. Butiran-butiran kasarnya membantu meluruhkan sel kulit mati, sisa kotoran, sisa polusi, dan minyak. Tapi kadang perih juga rasanya, sis. Bikin kulit iritasi. Makanya gue penasaran banget dengan produk ini karena dia nggak ada butiran scrub-nya, jadi konon cocok untuk kulit sensitif. Penasaran dong gue. Jadilah gue coba beli.
Dead Skin Cell Remover ini ada dua ukuran, 10gr dan 20gr. Gue coba yang kecil dulu, harganya Rp32.000,00. Beli di shopee official-nya Envygreen. Di web-nya langsung juga bisa, https://envygreen.co.id 
Kemasannya tube, warnanya putih kombinasi hijau.  
Di bagian belakang kemasan, ditulis bahwa pengaplikasiannya dilakukan setelah pembersihan tiga langkah. Gunakan peeling dengan arah memutar selama satu menit, gosok perlahan, kemudian bilas dengan air hingga bersih. 
Tiga langkah yang dimaksud adalah face cleanser, facial foam, toner. Face cleanser-facial foam emang rutinitas double cleansing gue, sih. Tinggal nambah toner ya cincailah.. 😁
Oh iya, penggunaan peeling-nya saat wajah dalam keadaan lembap, ya.
Teksturnya krim warna putih, ada bau seperti bau kimia. Setelah digosok ke wajah, teksturnya berubah jadi gel. Berhubung ini pertama kalinya gue pakai produk peeling yang non-scrub, tentu aja gue terkedjoet melihat banyaknya "daki" yang luruh dari hidung dan dagu gue (sumber komedo selama ini), padahal rasanya kayak pakai facial foam biasa aja.
Setelah dibilas, muka jadi terasa banget lebih bersih, lebih halus, dan lembap. 
Gue sih pakainya seminggu sekali dan ini udah masuk bulan kedua. Selama itu pula pore pack andalah gue nggak keluar dari lacinya 😁




Muka abis cuci muka banget 😂😂😂


Ingredients:
Aqua, Glycerin, Acrylates Copolymer, Octyldodecanol, Tocopheryl Acetate, Sweet Almond (Prunus Amygdalus Dulcis) Oil, Hydroxyethyl acrylate, Isohexadecane, Polysorbate 60, Phenoxyethanol, Propylparaben, Ethylparaben, Methylparaben, Butylparaben, Fragrance

Envygreen ini produk lokal yang berlokasi di Semarang. Pabriknya udah standar internasional yang bersertifikat CGMP (Current Good Manufacturing Process) dan semua produknya udah menerapkan high grade Clinical Active Cosmetics (CAC) yang menggabungkan kosmetik dengan ilmu farmasi. Jadi, produknya bekerja dari bagian terdalam kulit. 
Mengklaim aman untuk ibu hamil dan menyusui, tapi untuk keterangan lebih jelas tentu aja bisa menghubungi pihak Envygreen-nya, ya 😊
Apakah gue akan repurchase? Sepertinya iya, tapi mau beli yang 20gr.
Ada yang pakai produk Envygreen juga nggak sih di sini? 


Rabu, 09 Desember 2020

Review: Rollover Reaction Custard Tart Cushion Compact


Hallo Bloggies, apa kabar? 
Semoga sehat semua yaaa.. 
Hari ini gue mau ngomongin Rollover Reaction Custard Tart Cushion Compact. Sepertinya gue punya kecenderungan untuk baru inget mau nge-review sebuah produk ketika produknya udah mau habis 😅😅
Awalnya gue beli Cushion Compact-nya Rollover Reaction yang nomor 101 ini karena penasaran aja, soalnya dia diklaim untuk "light skin with neutral undertone". Sekurang update-nya gue terhadap cushion, gue baru tau ada yang menyediakan khusus neutral undertone. Selama ini gue punya pengalaman buruk sih soal cushion, yang jadi oksidasi lah, yang salah shade lah, yang bikin muka jadi warna abu-abu lah, tapi sebagai orang beriman, gue yakin gue cuma belum menemukan yang cocok aja. Makanya gue terus mencari dan terus-terusan punya pengalaman buruk 😂😂😂
Awalnya, gue nggak segitu pedenya untuk merasa kulit gue tergolong light skin. Tapi pas gue cek di website-nya, https://www.rollover-reaction.com .ternyata ada berbagai tipe warna kulit yang cocok pakai 101 ini. Nggak harus yang kulit putih kayak aktris Korea 😁
Jadilah gue beli online. Harganya Rp195.000,00. Berat 15gr. Tampak luarnya manis, dengan warna peach-hitam. Di bagian bawah produk, ada nomor BPOM dan tanggal kedaluwarsa. 



Penampakan dalam mah seperti semua cushion pada umumnya ya, begitu dibuka langsung ada tempat puff dan di bawahnya baru cushionnya.
Untuk cara pakai, tekan lembut puff di cushion sampai warnanya keluar dan menempel di puff, ratakan di wajah. Begitu gue coba, gue jadi menyadari satu hal: ternyata kulit gue neutral undertone, Saudara-Saudara. Jadi selama ini gue bukannya salah shade, tapi salah undertone 😂😂



Ini tuh warnanya bagus banget di muka gue, menyatu tipis jadi kayak kulit kedua. Bisa untuk sedikit menutupi kehitaman di area bawah mata dengan pemakaian di-layer, tapi untuk menutup sempurna mah nggak bisa, ya. 
Gue baca di ingredients ada Sodium Hyaluronate juga, itu kali makanya ada sensasi melembapkan saat dipakai. Tunggu beberapa saat sampai dia nge-set sebelum ditimpa make up lain, ya. Kalau nggak nanti jadinya cakey. 
Di bawah ini gue kasih lihat tahapan dari  pemakaian di setengah wajah sebagai pembanding, pemakaian di seluruh wajah termasuk di bibir, penampakan setelah pakai lipstik, dan penampakan setelah dandan full.
Dan yang bikin hepi, setelah pemakaian lama pun dia nggak bikin kulit jadi oksidasi ataupun bikin warna kulit jadi abu-abu! Super love! 💓💓💓



Biasanya gue pakai cushion ini buat pemotretan di Instagram (eh btw udah pada follow belum? Follow dong, @della_daud 😝). Jadi kalau kalian perhatiin postingan gue sejak 6 Oktober 2020, itu udah pakai cushion ini, ya. If you like what you saw, cobain deh. Siapa tau suka juga kayak gue 😁
Oiya, cushion ini mengandung SPF 27. Di ingredients emang ada Titanium Dioxide yang biasanya ada di sunscreen. 

Di bawah ini gue tuliskan ingredients lengkapnya: 
Water, Titanium Dioxide, Cyclopentasiloxane, Ethylhexyl Methoxycinnamate, Cyclohexasiloxane, Glycerin, Cetyl Ethylhexanoate, Cetyl PEG/PPG-10/1 Dimethicone, Phenyl Trimethicone, Ethylhexyl Salicylate, Pentylene Glycol, Methyl Methacrylate Crosspolymer, Dimethicone, Silica, PEG-10 Dimethicone, Magnesium Sulfate, Phenoxyethanol, Dimethicone/Vinyl Dimethicone Crosspolymer, Trimethylsiloxysilicate, Disteardimonium Hectorite, Aluminum Hidroxide, Triethoxycaprylylsilane, Betaine, Stearic Acid, Ethylhexylglycerin, Disodium EDTA, 1,2-Hexanediol, Sodium Hyaluronate, Allantoin, Caffeine. May contain: Cl 77492, Cl 77499


Cushion favorit kamu apa? Kasih tau dong  ^__^